• SISABAR
  • Jalan H. Somawinata No. 1, Kadu Agung, Tigaraksa, Kadu Agung, Tigaraksa, Tangerang, Banten 15119, Indonesia
  • Telp/Fax (021) - 5995503 / -

Fondasi Penting Agar Anak Kuat Mental Menurut Psikolog Harvard

PISA Tangerang Gemilang - Bawaan kepribadian dan kondisi keluarga serta lingkungan sangat berperan dalam membentuknya.

 

Otak anak bukanlah miniatur otak orang dewasa. Otak tersebut adalah otak yang lahir di bawah konstruksi yang menghubungkan dirinya dengan dunia. Peran orangtua sangat besar dalam membentuk otak dan psikologis anak.

 

Beberapa anak yang sangat pintar dalam akademik, tapi dalam hal sosial agak kurang, begitu juga sebaliknya. Bawaan kepribadian dan kondisi keluarga serta lingkungan sangat berperan dalam membentuknya.

 

Orangtua merupakan sumber 'ilmu' utama anak. Untuk itu pola pengasuhan sangat berdampak pada kondisi psikologis dan perkembangan otak anak agar kuat dan tangguh dalam melewati cobaan hidup.

 

Lisa Feldman Barrett, Ph.D., ahli saraf dan psikolog, yang juga Chief Science Officer for the Center for Law, Brain & Behavior di Harvard University, mengungkap konsep penting pengasuhan untuk membentuk anak yang kuat mental dan pintar. Apa saja?

 

Jadilah 'tukang kebun', bukan 'tukang kayu'


Tukang kayu mengukir kayu sesuai bentuk yang mereka inginkan. Tukang kebun membantu hal-hal untuk tumbuh sendiri dengan mengolah lanskap yang subur. Demikian pula orangtua, usahakan untuk membentuk anak mereka menjadi sesuatu yang spesifik, sesuai dengan bakat anak. Usahakan cari keunggulan anak dan fokus di hal tersebut.

 

Bisa juga menyediakan lingkungan yang mendorong pertumbuhan fisik dan mental yang sehat, apapun keputusan yang diambil anak. " Menjadi tukang kebun berarti berusaha memahami jenis tanaman yang kita tanam, agar dapat tumbuh sesuai dengan kondisi tanah agar mampu berakar dan berkembang dengan baik," kata Barret.

 

Bicaralah dan bacakan banyak buku untuk anak

 

Penelitian menunjukkan bahwa, bahkan ketika anak-anak baru berusia beberapa bulan dan tidak memahami arti kata-kata, otak mereka masih memanfaatkannya. Ini membangun fondasi saraf untuk pembelajaran nanti.

 

Jadi, semakin banyak kata yang mereka dengar, semakin besar efeknya. Anak juga akan memiliki kosakata dan pemahaman bacaan yang lebih baik.

 

"Mengajari mereka kata-kata emosi yaitu, sedih, bahagia, frustrasi sangat bermanfaat. Semakin banyak mereka tahu, semakin fleksibel mereka dapat bertindak," ungkap Barret.

 

Jelaskan banyak hal

Memang sangat melelahkan jika anak terus-menerus bertanya, "mengapa?". Ingat, anak belum begitu mengenal kondisi dunia yang begitu kompleks dan ia akan selalu bertanya mengapa tak boleh berteriak, mengapa tak boleh membuang makanan, mengapa tak boleh melompat di tempat umum.

Hindari menjawab pertanyaan "mengapa" dengan, "udah gak usah tanya, ikutin saja kata papa/mama". Anak-anak yang memahami alasan dilarang berperilaku tertentu dapat mengatur tindakan mereka dengan lebih efektif.

Bantu anak-anak meniru hal baik

Pernahkah ayah atau bunda memperhatikan bagaimana tugas rumah yang rumit ternyata bisa dilakukan anak tanpa diajari secara detail? Anak-anak belajar secara alami dengan melihat, bermain, dan yang terpenting, dengan meniru orang dewasa.

"Ini adalah cara yang efisien untuk belajar, dan memberi mereka rasa mandiri. Jadi berikan anak sapu kecil, sekop mungil atau alat rumah tangga seukurannya dan biarkan anak terlibat saat kita sedang melakukan pekerjaan ruah," kata Barett.


Sumber :

https://parenting.dream.co.id/

http://seputaranak.com/